Downgrade Your New Windows 8 Computer to Windows 7 for Free

This story will display in ...Jan 8, 2013 5:00 PM  

Downgrade Your New Windows 8 Computer to Windows 7 for FreeIf you aren't a fan of Windows 8 but want a new laptop that comes with Windows 8 preinstalled, you'll be happy to know you can actually downgrade it to Windows 7 without having to reformat. Here's how.

Maybe you've given Windows 8 a fair shake and it just isn't working for you, or maybe you're so against upgrading that you don't want to buy a new computer until you know you can downgrade. No matter your reasons, you may actually have a way out. Some Windows 8 PCs come with what are called "downgrade rights." If your PC comes with Windows 8 Pro, you can downgrade to Windows 7 Pro just by installing it on top of your existing OS. You'll need a legitimate disc and product key, but you can just use an old or used one—after you install, you can call Microsoft and they'll activate your downgrade for you. You can even downgrade multiple machines with the same CD and key.

Not all computers come with downgrade rights, so be sure to do a bit of research before you try this out or buy your new Windows 8 computer. It can be a bit of a hassle, but it's a nice option if you really want to keep using Windows 7. Hit the link to see the full step-by-step process.

Understanding Downgrade Rights | Microsoft via How-To Geek


View the original article here

READMORE
 

Taubat Pembersih Qolbu

Taubat Pembersih Qolbu 
Oleh: Ningrum M.
Bismillahirrahmanirrahimm
Suatu kehidupan sampai akhir hayat pastinya tidak akan sepi dari suasana  hati terhadap suasana hati yang gembira hari ini besok sedih. Baru gembira  menit berikut bisa sedih. Kenapa? Jadi sampai akhir hayat kita tidak akan  berhenti bertemu dengan dua hal yang kontras. Sebentar sedih,  setelah itu  gembira,  setelah gembira setelah itu sedih,  saat ini bahagia besok kena  fitnah.
“Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang  menyucikan diri” ( Qs. Al-Baqarah:222)
Bagaimana Taubat sebagai pembersih Qolbu ? Kalau qolbu kita bisa bersih  dialah yang bakal membawa kita menuju kepada ketenangan, tapi kalau qolbu  kita banyak polkadotnya (titik-titiknya) itu yang susah terijabah, itu yang  susah bawaannya ngotot dan emosi. Yang kita inginkan adalah hati yang  bersih, kalau hati kita hitam harus dibersihkan dengan taubat dan istighfar  sehingga lama kelamaan hitamnya akan hilang, kita berharap dengan  riyadhohnya akan tertetes jiwa Allah dalam hati kita.
Bertaubatlah kepada Allah setiap waktu karena itu dianjurkan oleh Allah SWT  sebagaimana firman-Nya dalam QS An-Nuur ayat 31 “Bertaubatlah kalian semua  kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung”. Mau  menjadi untung atau rugi, kita lah yang memilih. Taubat merupakan sarana  yang mengatar hamba menjadi kekasih Allah, artinya jangan berjalan selain  bersama Allah.
Rasulullah SAW bersabda :”Kadangkala timbul perasaan dalam hatiku maka aku  beristighfar memohon ampun kepada Allah 100 kali”. Beda sekali dengan kita  istighfar kita itu kejar setoran, maksudnya, kalau mau istighfar itu  menggugurkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita maka istighfarnya  tembakkan kepada kesalahan yang kita tuju. Mudah-mudahan istighfar kita yang  100 hanya membersihkan kesalahan kita yang hanya 10, sehingga kita surplus  90, ini namanya istighfar  kita adalah berkualitas. Jadi terjawab mengapa  istighfar 100 kali tapi masih jutek? karena tidak yakin Allah menghapus  noda-noda yang membekas.
Oleh karena itu, usahakan untuk senantiasa bertafakaur sepanjang hidupmu.  Renungkan apa yang telah engkau perbuat setiap hari? Apa yang telah engkau  perbuat di siang hari? jika engkau melakukannya dalam ketaatan maka  bersyukurlah dan sebaliknya maka bersegeralah menuju ampunannya. Jangan  menyesali diri dengan tertawa bahagia, tapi sesalilah dengan jujur,  kekecewaan, penyesalan yang mendalam. Jadi kalau kita ingin dipandang oleh  Allah dari Arsy’-Nya dengan penuh cinta, maka tafakurilah segala sesuatu  yang salah kemudian bergegaslah untuk beristighfar. Namun kalau dia tidak  menyesali maka merugilah ia. Efeknya dari ini adalah Allah akan menggantikan  kesedihan dengan keceriaan, kehinaan dengan kemulyaan, kegelapan dengan  cahaya dan ketertutupan dengan ketersingkapan yang ada. Inilah reward dari  Allah, barang siapa yang  melakukan kesalahan hendaknya dia bergegas  beristighfar, bukankah ini yang kita impikan suatu kepribadian yang  bercahaya  sebagai muslimah, sesuatu kesedihan menjadi kesenangan, bukankah  ini yang kita impikan suatu kepribadian yang penuh cahaya sehingga terbuka  cahaya pikir.
Allah SWT tidak akan menghitung-hitung kesalahan hamba-Nya, ia paham bahwa  hambanya akan segera beristighfar, betapa pentingnya suatu instropeksi diri  pada setiap waktu, bukan hanya pada saat ulang tahun. Justru dari sholat ke  sholat kita harus beristighfar yang dapat menghapus kesalahan-kesalahan  kita. Seorang ahli tafakur dia akan senantiasa peka terhadap kesalahannya  artinya dia tidak ingin terperangkap kedalam lubang yang kedua kalinya.  Tentu dia akan tegap lagi, menginginkan kasih sayang Allah.
Oleh karena itu hendaknya engkau tujukan semua amal perbuatanmu untuk Allah,  barang siapa amal perbuatannya jatuh kedalam dosa maka qolbunya akan menjadi  gelap gulita. Kalau kita senantiasa melakukan kesalahan tetapi Allah tetap  saja mengaruniakan kepada kita rizki yang berlimpah itu berarti kasih sayang  Allah lebih utama dibanding murka Allah kepada kita.
Jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT  karena kita tidak akan pernah luput dari pengawasan dan perlindunganNya.  Berbuat kesalahan itu ibarat api sementara kegelapan adalah asapnya, jadi  seperti orang yang menyalakan perapian dirumah selama 70 tahun bukankah  rumah tsb akan gelap. Inilah perwujudan orang-orang yang salah. Ia baru  menjadi bersih dengan taubat kepada Allah, jika engkau bertaubat kepada  Allah bekas-bekas salah tersebut bisa menjadi sirna. Ketahuilah bahwa taubat  adalah terminal pertama, segala bentuk ibadah akan diterima Allah jika  didahuli dengan niat.
Kedaan hamba yang melakukan salah sama seperti periuk besi diatas api,  semakin lama semakin menghitam warnanya, kalau kita ingat salah ingat priuk  jangan ingat wajah cantik, tidak kelihatan nanti salahnya, walaupun dicuci  ia tidak akan kembali. Setiap mukmin jika melakukan kesalahan maka akan  timbul bintik hitam pada qolbunya, jika ia bertaubat, beristighfar memohon  ampunan maka bintik hitam tadi akan terhapus. Nah, istighfar yang baik  adalah bukan istighfar yang kejar setoran., tetapi salah mana yang akan kita  tuju. Taubatlah yang bisa mencuci hitamnya qolbu sehingga amal-amal saleh  bisa tampak terang diterima oleh Allah SWT. Jika ini bisa dilakukan maka  hidup akan menjadi lebih baik. Sebab taubat merupakan karunia menjadi lebih  baik, yang diberikan kepada hambanya yang dikehendaki. Kadang kala seorang  budak yang kurus berhasil melakukan taubat tetapi majikannya tidak, mungkin  pembantu kita jauh lebih mulia daripada kita. Nur nya lebih bercahaya  daripada kita.
Jadi orang-orang yang suka bertaubat, disini Allah memposisikan diri-Nya  sebagai orang yang mencintai hambanya  bukan sebagai yang dicintai.  Bayangkan Allah yang mencintai, Ya Allah cintailah aku, berikanlah aku cinta  yang bisa mendekatkan aku kepadaMu, Ikrar ingin dicintai Allah adalah  resikonya siap atau tidak kita untuk mendahulukan Allah dan berserah diri.  Orang yang merasa senang dengan sesuatu itu jika mengetahui kadar dan nilai  sesuatu itu, jika engkau menebarkan intan permata maka  kepada binatang  melata niscaya mereka lebih menyenangi gandum, artinya termasuk kelompok  manakah kita ini? Jika kita orang yang bertaubat berarti kita termasuk orang  yang dicintai Allah, tetapi jika tidak kita termasuk orang yang zhalim.
Bagi kita yang mempunyai salah menumpuk jangan berputus asa terhadap rahmat  Allah SWT dengan berkata sudah berapa kali aku bertaubat dan menyesal. Kalau  hati ingin terawat bersih maka harus dirawat dengan ibadah yang baik dengan  kalimah Allah, kerja yang prestasi di jalan yang lurus. Boleh jadi solehah  yang gaul.
Suatu ketika Syeikh Abu Hasan As-Sadjili bercerita, aku pernah ditegur  ”Wahai Ali bersihkanlah bajumu dengan pertolongan Allah, pastilah ia akan  selalu terpelihara” “bajuku yang mana? Allah telah memberimu pakaian  ma’rifat yaitu tauhiid, lalu pakaian mahabbah yaitu cinta kepada Allah,  kemudian pakaian islam, siapa yang mengenal Allah yang lain tidak berarti  baginya. Barang siapa orang-orang yang bersama-Ku maka Aku cintai. Jadi,  kalau masih marah, masih tidak sabar, berarti Allah belum berada di dalam  jiwanya. Apa salahnya? ingat-ingat lagi apakah kesalahan yang telah kita  lakukan kepada Allah SWT, kemudian bertaubatlah..
READMORE
 

Kebaikan Yang Indah

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa,”Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab,” Kebaikan.” [An Nahl; 16:30]
Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta tolong pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.
Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.
Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya, “Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu.”
“Oh, tidak,” jawab tetangganya. “Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui.”
Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan(disediakan) kebaikan dan tambahan (ridha Allah) serta muka-muka mereka tidak tertutup oleh kehitaman dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah ahli surga yang mereka kekal di dalamnya [Yuunus; 10:26]
READMORE
 

Meneladani Akhlak Rasulullah

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai? Maka, tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” QS Al Hujuraat:12
Menapaki hari demi hari dari bulan Ramadhan yang paling utama di antara segala bulan ini ternyata kita tidak semata-mata sedang menjalani suatu kewajiban dari Allah. Akan tetapi pada hakikatnya kita tengah menapaki nikmat demi nikmat, pahala demi pahala, serta ampunan demi ampunan dari-Nya.
Rasulullah SAW diutus oleh Allah ke dunia ini bertugas untuk menyempurnakan akhlak. Beliau ajarkan akhlak mulia pada keluarga, sahabat, dan umatnya. Terhadap siapa pun beliau menghormati. Beliau tidak berbicara cepat seperti orang angkuh. Namun beliau juga tidak berbicara pelan seperti orang yang malas berkata-kata.
Lisan Rasulullah dilimpahi curahan berkah yang melimpah. Beliau berbicara jelas, tegas, penuh makna dan menghujam ke hati para shahabat yang mendengarnya. Ucapan beliau sarat dengan hikmah, indah dan bernilai. Beliau tidak berbicara kecuali perlu. Beliau selalu membuka dan menutup pembicaraan dengan menyebut nama Allah.
Dengan demikian, maka sangat mustahil bagi Rasulullah SAW untuk berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain atau menceritakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan mereka.
Allah berfirman dalam hadits Qudsi, yang artinya : “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya”.
Allah SWT menuntun manusia hidup dengan adab kesopanan yang luhur. Jika mereka berpegang dengan adab tersebut, insya Allah akan tumbuh rasa cinta dan kebersamaan di antara mereka. Hidup bermasyarakat akan rawan konflik. Disengaja atau tidak selalu saja akan muncul potensi sakit hati. Dan Allah telah mengajari kita agar hidup jauh dari prasangka buruk (su’uzhan), mencari-cari kesalahan orang (tajassus), dan (ghibah) yaitu membicarakan aib saudaranya, yang jika mereka mendengarnya tentu akan sakit hati dan membencinya.
Berburuk sangka atau su’uzhan akan membuat hati kita capek dan busuk. Kita tahu bahwa prasangka-prasangka buruk akan memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Selain merusak hati su’uzhan juga akan melenyapkan kebahagiaan, merusak akhlak dan akan menodai kedudukan kita di sisi Allah. Jika kita sadar bahwa su’uzhan itu buruk akibatnya, maka mengapa kita tidak berbaik sangka (husnuzhan) saja kepada orang lain?
Saat kita mengucapkan salam pada orang lain, kemudian tidak mendapat jawaban sedikit pun, maka cobalah untuk berbaik sangka. Siapa tahu orang yang kita salami tidak mendengar suara kita atau mungkin saja ia tengah konsentrasi berdzikir pada Allah. Biasakanlah kita melatih diri untuk mencari seribu satu alasan positif agar dapat memaklumi orang lain. Respons positif kita bisa dijadikan salah satu cara untuk menghindari kebiasaan ber-su’uzhan.
Orang yang gemar berburuk sangka, maka akan menderita sendiri. Hidupnya akan sempit, sesempit gelas yang terisi air. Kalau dimasukkan ke dalamnya sesendok garam saja, maka akan terasa asin seluruh airnya. Berbeda dengan danau, walaupun dimasukkan sekarung garam, maka airnya tidak akan menjadi asin, sebab airnya melimpah. Demikian juga hati kita, jika hati kita sempit sesempit gelas maka sedikit saja masalah akan membuat hati kita sakit. Dan bila hati sudah sakit maka apa pun yang terjadi, akan terlihat buruk oleh mata kita. Maka jika kita gemar berbaik sangka (husnuzhan), insya Allah hidup akan terasa tenang dan lapang.
Lingkungan juga dapat membentuk akhlak seseorang. Lingkungan orang-orang beriman dan terpuji akhlaknya, insya Allah akan menghindarkan diri kita dari berburuk sangka. Ketika ada orang tak dikenal datang ke rumah kita, jangan langsung su’uzhan. Tapi juga jangan sampai hilang kewaspadaan, waspada tetap dibutuhkan di samping kewajiban kita berbaik sangka. Kita kenali yang mendatangi rumah kita, maka jangan langsung kita su’uzhan terlebih dahulu. Tapi, tidak ada salahnya kalau kita selalu waspada agar dapat mengendalikan keadaan dengan tepat.
Belajar untuk mencari seribu satu alasan sebagai jawaban dari berbagai permasalahan dapat menjadikan kita selalu husnuzhan dengan tepat. Jangan sampai kita berbaik sangka pada para penjahat. Bisa-bisa, sebelum kita menyadarinya ternyata kita telah menjadi korban kejahatannya. Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau kita berbaik sangka pada maling. Ber-husnuzhan juga ada ilmunya, jangan sampai kita tertipu karena telah ber-husnuzhan pada orang yang tidak tepat. Ber-husnuzhan lah pada orang beriman dan akhlaknya mulia. Dan biasakanlah untuk selalu dapat memaklumi sikap orang lain dan tetap harus waspada.
Selain menghindari su’uzhan, Allah mengajarkan hamba-Nya melalui Rasulullah SAW untuk tidak ber-tajassus (mencari-cari aib orang lain) dan ber-ghibah (menceritakan aib orang lain). Dua hal buruk ini sangat akrab sekali dalam kehidupan manusia. Kadang malah bisa menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.
Ghibah adalah menyebut-nyebut seseorang tentang hal-hal yang tidak ia sukai dan tanpa sepengetahuannya. Ghibah itu dimisalkan dengan memakan daging bangkai, sebab dengan ber-ghibah berarti kita telah merobek-robek kehormatan pribadi dan orang lain yang serupa dengan merobek-robek dan memakan daging yang sudah menjadi bangkai. Lebih dari itu, ayat dari surat al Hujuraat sebagaimana tersebut di atas, menganggap bahwa daging yang dimakan itu adalah daging saudara sendiri yang telah mati, sebagai gambaran betapa kejinya perbuatan seperti itu yang dianggap menjijikan oleh perasaan orang lain.
Saudaraku, apabila kita terlanjur ber-su’uzhan, tajassus, dan ghibah, maka wajiblah bagi kita untuk bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya. Ketika perbuatan dosa itu kita lakukan, maka secara langsung kita harus bertaubat, yaitu dengan cara berhenti dari perbuatan dosa dan menyesal atas keterlanjurannya serta bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang sudah terlanjur dilakukan itu.
Selain bertaubat, kita harus meminta maaf pada orang yang telah kita sakiti dengan su’uzhan, tajassus, dan ghibah yang telah kita lakukan. Jika kita tidak sempat meminta maaf padanya karena ia telah tiada, maka doakanlah kebaikan bagi diri dan keluarganya. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah mengampuni dosa yang telah kita perbuat dan tentu saja kita berharap menjadi golongan orang-orang yang bertakwa. Wallahu a’lam.
READMORE
 

Jangan Sampai Amal Kita Hangus!


Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.

Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air wudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal. Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.
Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.
Para sahabat penasaran, Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunya Abdullah bin Amr bin ‘Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untuk menginap tiga hari di rumahnya.
Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja.
Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, Amal apa yang engkau lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? Jawaban Abu Umamah sungguh mengecewakan, Apa yang engkau lihat itulah.
Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam.
Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hatilah (qolbun saliim) yang akan memasuki surga tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla. Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy Syu’araa [26]: 87).
Kebersihan hati adalah password untuk membuka pintu surga. Sesedikit apa pun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke surga, asal ia memiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apa pun amal, tidak akan berarti sama sekali bila kita memiliki hati penuh penyakit.
Abu Umamah layak ditiru. Ia bukan sahabat sekaliber Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan atau pun Ali bin Abi Thalib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, juga beberapa sahabat lainnya. Namun, derajatnya di mata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, hingga Rasulullah SAW memvonis ia sebagai calon penghuni surga. Mengapa? Sebab hatinya bersih dari penyakit dan lapang dari kebencian dan dendam. Sehingga semua amal kebaikannnya tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah SWT.
Karena itu, selain sibuk memperbanyak amal kebaikan, kita pun harus sibuk menjaga hati dari penyakit-penyakit membahayakan. Sebab, percuma saja kita menghiasai diri dengan berjuta-juta amalan–wajib maupun sunnat, sedang hati tidak pernah kita bersihkan. Sebaliknya, walau amal kita biasa-biasa saja, namun dibingkai kebersihan hati, maka nilainya akan jauh lebih tinggi di hadapan Allah. Lebih baik makan sayur kacang di mangkuk yang bersih, daripada makan gule spesial yang ditaruh di mangkuk penuh kotoran. Ideal tentu makan gule spesial di mangkuk bersih. Atau banyak ibadah dengan landasan qalbun saliim.
Namun setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha menghancurkan amal-amal yang tengah kita kumpulkan saat Ramadhan ini. Maka, sekali lagi, di tengah kesibukan kita beramal, jangan lupakan hati kita. Lindungi dari penyakit-penyakit penghancur amal. Menurut Rasul SAW, ada tiga penyakit yang akan menghanguskan amal kita.
Pertama, takabur atau sombong. Menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, takabur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan kemuliaan akhlak. Betapa tidak, orang takabur akan selalu mendustakan kebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya. Jangankan banyak, sedikit saja di hati kita ada sikap takabur, maka surga akan menjauh, amal-amal jadi tidak berarti. Disabdakan, Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sikap takabur walaupun sebesar debu. (HR Muslim).
Kedua, hasud atau iri dengki. Ciri khas seorang pendengki adalah adanya ketidakrelaan ketika orang lain mendapat nikmat dan sangat berharap nikmat tersebut segera lenyap darinya. Bahasa kerennya, susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah . Kedengkian sangat efektif menghancurkan kebaikan. Rasulullah Saw. menegaskan, Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Ketiga, riya atau beramal karena mengharap pujian orang lain. Riya adalah tingkatan terendah dari amal. Rasul menyebutnya syirik kecil yang juga efektif menghapuskan kebaikan. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat debu saja berupa riya. Sebuah hadis qudsi mengungkapkan pula bagaimana murkanya Allah kepada orang yang riya dalam amalnya. Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia menlihat catatan amal-amalnya, Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riya) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HR Ahmad dan Baihaqi). Dalam Alquran, diungkapkan pula bahaya riya, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria (QS Al Maa’un [107]: 4-6).
READMORE
 

Kesenangan (Cinta) Duniawi yang Melalaikan

Kesenangan (Cinta) Duniawi yang Melalaikan
Firman Allah :
(38:30) Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhannya),
(38:31) (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,
(38:32) maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”.
(38:33) “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu”.
Empat ayat diatas adalah dari Surot Shood, menceritakan suatu kisah ibrah berkenaaan kesenangan / kecintaan duniawi yang bisa melalaikan ketaatan terhadap perintah Allah.
Ayat pertama, (38:30) informasi kepada kita bahwa Allah memberikan karunia kepada Nabi Daud as, seorang anak yang merupakan sebaik-baik hamba Allah dan amat taat kepada Allah, yaitu Nabi Sulaiman as.
Ayat kedua, (38:31) menceritakan bahwa Nabi Sulaiman punya hoby memelihara kuda. Dan kuda-kudanya sangat terlatih. Namun karena hobynya ini membuat lalai dalam mengingat Allah, sehingga ia berkata :
Ayat ketiga, (38:32) “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. Karena kesenangannya dalam memelihara kuda dan melatihnya membuat ia lalai lalu ia mengambil keputusan :
Ayat ke empat, (38:33) “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.
Apa yang dilakukan Nabi Sulaiman as, merupakan sebuah kisah yang patut kita ambil ibrahnya, betapa pentingnya untuk ingat terhadap perintah Allah dan jangan sampai kita lalai terhadap mengingat Allah karena kesibukan duniawi sesaat.
Lalu mari kita renungkan surot at-Tawbah ayat 24 dibawah ini :
(9:24) Katakanlah: “jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”.
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Semoga Allah melindungi kita dalam pemeliharaan dan pendidikan-Nya agar lebih mencintai Allah, Rasul dan Jihad. Jangan sampai kecintaan ataupun kesenangan kita terhadap bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kita, harta kekayaan yang kita usahakan, perniagaan yang kita khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kita sukai membuat kita lalai dalam mengingat Allah.
Karena jika kita tidak segera toubat dari kelalaian terhadap Allah, Rasul dan Jihad maka akan termasuk orang-orang yang fasik. Na’udzubillah min zalik.
READMORE
 

Adhyaksa Dault: Menpora, Satukan KPSI dan PSSI!

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault, berpendapat, KPSI dan PSSI harus disatukan untuk memperkuat tim nasional. Menurut dia, yang berperan mempersatukan keduanya adalah pemerintah, khususnya Menpora Andi Malarangeng.

"Terbaiknya, KPSI dan PSSI dipanggil bersatu dan Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) punya peran di situ," ujar Adhyaksa yang ditemui di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (3/12/2012).

Kedatangan Adhyaksa ke Bareskrim  untuk melaporkan penyalahgunaan pengurus dan ketua pembina sebuah yayasan. Namun, ia enggan berkomentar lebih jauh mengenai laporannya tersebut.

Mengenai timnas, Adhyaksa meminta Andi segera panggil pihak KPSI dan PSSI. Menurut dia, para atlet justru menjadi korban dualisme kepengurusan persatuan sepak bola di Indonesia.

"Yang panggil Menpora. Kalau tidak, jadi korban atletnya. Ini peran pemerintah. Peran Menpora musti panggil dua-duanya biar bersatu," tuturnya.

Diketahui sebelumnya, timnas Indonesia dikalahkan tim Malaysia pada pertandingan Group B Piala  Suzuki AFF 2012 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (1/12/2012). Timnas harus pulang dengan tangan kosong, yakni dengan skor 0-2 untuk Malaysia. Beberapa pihak menilai, kualitas permainan timnas menurun, salah satunya akibat adanya dualisme kepengurusan sepak bola di Indonesia.


View the original article here

READMORE
 

About Me

Pengikut